Sweet Potato
About◕ Links◕ Stuff◕ Entries

________________________________________________________________________________________
Kamis, 13 September 2012 | 02.43 | 0 Atasinchi
orang-orang lain cuma bisa nyuruh aku move on.
aku juga sebenarnya sudah berusaha.
tapi kenapa ngelakuin move on itu susah sekali ya?
ampe aku ga bisa-bisa..

aku ga ngerti.
kenapa aku mesti kenal kamu.
coba dari awal kamu ga pernah sms aku. bbm aku. mention aku.
mungkin aku ga akan ngerasain sakit ini..

kamu pernah ngerasain gak..
sakit yang kayak aku..
yang cuma bakal kambuh kalau liat kamu sama dia..

aku sebenernya udah janji sama diri aku sendiri..
buat ga galauin kamu.
tapi mau gimana?
tiap hari kamu muncul terus.
mana bisa dan tentunya mana mau aku ngusir kamu..
aku masih suka sama kamu..
masih sayang...

aku yakin betul, aku ga perlu teriak-teriak dari atas balkon,
ataupun ngasih kamu coklat,
atau apalah,
supaya kamu suka juga sama aku.
aku cuma bisa nunggu..
soalnya aku tau,
kamu suka sama aku itu mustahil.

terus, sekarang?
aku gatau aku mesti percaya sama siapa.
sahabat? aku gapunya. mereka datang dan pergi ninggalin luka buat aku.
pacar? kamu. suatu saat.
tapi sekarang mereka ga ada.
makanya aku butuh kamu..

seandainya kamu hubungin aku sekarang..
aku selalu ada buat kamu.
ga peduli nanti pacarmu mau marah atau apalah sama aku.
aku juga berusaha buat ga peduli sama kamu.
aku kan bukan siapa-siapa kalian.
cuma pengganggu.

aku pengen deh suatu saat,
kamu nyesel pernah nganggep aku cuma sekedar teman..
cuma teman loh. teman dekat juga ga kesampean..
aku cuma berharap doang sama Tuhan..
biar bisa sering ngobrol sama kamu :)

yasudah.. aku memang diharuskan begini.. 
haruskah aku move on? sekarang?

ohiya, satu lagi..
kalau misalnya kamu sudah tau bahwa sekarang aku sangat sayang sama kamu..
tolong lupakan saja..
soalnya disaat kamu tau hal itu,
aku sudah tidak ada lagi buat kamu..


_________
part 2 dari post sebelumnya.

Label: ,

________________________________________________________________________________________
Selasa, 28 Agustus 2012 | 08.33 | 0 Atasinchi
okaaay, i posted more than once today because i'm in the good mood! XD

gue mau post tips aja deh. buat para jomblowan. the males one. para bro-bro yang hatinya gundah gulana karena sang putri impian tak kunjung didapatkan yihaaa~

gue mau nyaranin tentang saat-saat apa aja yang cocok buat nembak cewek.


1. saat doi kebelet pipis
jadi dengan tanpa berpikir apa-apa, pasti si cewek ngomong "IYA" dengan lantang karena ga kuat nahan.

2. saat doi udah setengah tidur
doi yang udah bersatu dengan mimpinya, kalo dibangunin, pengen ngelanjutin mimpinya. jadi biar cepet, pasti dia jawab dengan "iya deh, terserah.."

3. saat mood si doi lagi bagus banget
karena terlalu senang, doi jadi lupa segalanya, dan dengan spontanitas, doi akan bilang "iya! XD"

4. saat doi pusing ngerjain pr
apalagi pr matematika. pasti abis itu si doi males mikir, lalu dia akan bilang "iya, biar cepet."

5. saat doi galau banget pengen punya pacar
"yaudah deh gue mau jadi pacar lo, biar bisa nyemburuin dia hehehe."
lol.

just kidding. don't try this without the pro one.
yang dengan kebetulan keajaiban-keajaiban diatas terkabul dengan sempurna, selamat ya.
yang belum, keep cemungudh.

salam pup hangat.

Label: , , , ,

________________________________________________________________________________________
Jumat, 01 Juni 2012 | 03.09 | 0 Atasinchi
Siapa sih cewe yang perasaannya 'gapapa' pas denger kalimat-kalimat dibawah ini? Cewek kan juga manusia. Cewek kan selalu ngandelin perasaan. Yaudah ah, langsung aja ya.






1. "Terserah."


2. "Trus maunya apa sekarang?"


3. "Kamu gendutan."


4. "Cakepan dia sih."


5. "Oh."


6. "Ok lah."


7. "Maaf telat."


8. "Males ah, kamu berisik."


9. "Iya, bawel."


10. "Dibilangin juga, malah ga percaya."


11. "Aku lagi ga mau diganggu, jangan sms/bbm dulu."


12. "Betis kamu gede."


13. "Tampang kamu hari ini absurd banget."


14. "Aku gapercaya sama yang kamu bilang tadi."


15. "Maaf ya, kita gajadi jalan dulu, aku ada urusan."



Label: , ,

________________________________________________________________________________________
Rabu, 30 Mei 2012 | 23.32 | 0 Atasinchi

10th grade. As I sat there in English class, I stared at the girl next to me. She was my so called “best friend”. I stared at her long, silky hair, and wished she was mine. But she didn’t notice me like that, and I knew it. After class, she walked up to me and asked me for the notes she had missed the day before and handed them to her. She said “thanks” and gave me a kiss on the cheek. I wanted to tell her, I want her to know that I don’t want to be just friends, I love her but I’m just too shy, and I don’t know why.



11th grade. The phone rang. On the other end, it was her. She was in tears, mumbling on and on about how her love had broke her heart. She asked me to come over because she didn’t want to be alone, so I did. As I sat next to her on the sofa, I stared at her soft eyes, wishing she was mine. After 2 hours, one Drew Barrymore movie, and three bags of chips, she decided to go to sleep. She looked at me, said “thanks” and gave me a kiss on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don’t want to be just friends, I love her but I’m just too shy, and I don’t know why.



Senior year. The day before prom she walked to my locker. My date is sick” she said; he’s not going to go well, I didn’t have a date, and in 7th grade, we made a promise that if neither of us had dates, we would go together just as “best friends”. So we did. Prom night, after everything was over, I was standing at her front door step. I stared at her as she smiled at me and stared at me with her crystal eyes. I want her to be mine, but she isn’t think of me like that, and I know it. Then she said “I had the best time, thanks!” and gave me a kiss on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don’t want to be just friends, I love her but I’m just too shy, and I don’t know why.



Graduation Day. A day passed, then a week, then a month. Before I could blink, it was graduation day. I watched as her perfect body floated like an angel up on stage to get her diploma. I wanted her to be mine, but she didn’t notice me like that, and I knew it. Before everyone went home, she came to me in her smock and hat, and cried as I hugged her. Then she lifted her head from my shoulder and said, “you’re my best friend, thanks” and gave me a kiss on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don’t want to be just friends, I love her but I’m just too shy, and I don’t know why.



A few years later. Now I sit in the pews of the church. That girl is getting married now. I watched her say “I do” and drive off to her new life, married to another man. I wanted her to be mine, but she didn’t see me like that, and I knew it. But before she drove away, she came to me and said “you came!”. She said “thanks” and kissed me on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don’t want to be just friends, I love her but I’m just too shy, and I don’t know why.



Funeral. Years passed, I looked down at the coffin of a girl who used to be my “best friend”. At the service, they read a diary entry she had wrote in her high school years. This is what it read: “I stare at him wishing he was mine, but he doesn’t notice me like that, and I know it. I want to tell him, I want him to know that I don’t want to be just friends, I love him but I’m just too shy, and I don’t know why. I wish he would tell me he loved me!”, `I wish I did too…` I thought to my self, and I cried.

source:tumblr

Label: ,

________________________________________________________________________________________
Rabu, 04 April 2012 | 06.22 | 2 Atasinchi

Clarista tetap berontak. Dia tetap bersikeras untuk tidak mau pindah sekolah. Faktor dari ayahnya yang berpindah pekerjaan, membuatnya dia harus pindah tempat tinggal dan sekolahnya. Dia tidak mau meninggalkan teman-teman dan sahabatnya, Laura.  “Mama, aku tidak mau pindah sekolah..” pinta Clarista. “Tidak bisa, sayang. Dari rumah kita yang baru, jaraknya akan sangat jauh dari sekolahmu ini. Mama sudah menemukan sekolah yang bagus untuk kamu, yang jaraknya tidak jauh dari rumah kita yang baru. Kamu percayalah saja pada mama. “ ungkap mamanya. “Janji?” “Janji.”
Hari itu adalah hari Kamis, di mana hari Sabtu adalah hari terakhir Clarista belajar di sekolah lamanya. Di hari-hari terakhirnya di sekolah itu, Clarista banyak menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya. Hingga tibalah hari Sabtu, hari yang tidak Clarista tunggu-tunggu. “Kenapa hari ini begitu cepat datangnya?” keluh Clarista. Tapi apa boleh dikata, dia memang harus pindah. Mencari orang-orang dan teman-teman baru. Clarista harus kembali bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Hari Senin pun datang, waktunya Clarista untuk pergi ke sekolah. “Kamu harus ramah terhadap teman-teman barumu,“  pesan mamanya. Clarista mengangguk mengerti, dia siap ke sekolah, walau hatinya masih takut dengan keadaan sekolah barunya. Sesampainya di sekolah, banyak gadis-gadis sebaya dengannya memperhatikannya. Memang, seragam Clarista dengan yang lain itu berbeda, sehingga wajar apabila dia menjadi pusat perhatian. Clarista melangkah melewati kantor wakil kepala sekolah. Bu Siska, sebagai wakil kepala sekolah itu, melihat Clarista dan memanggilnya.
“Kamu adalah anak baru itu, ya?” “Iya, Bu.” “Kamu duduk di kantor ibu saja dahulu. Nanti setelah bel berbunyi, ibu akan membawamu ke kelas barumu.” “Oh, baiklah kalau begitu, Bu. Terima kasih sebelumnya.” Setelah Clarista mengucapkan terima kasih, Bu Siska berlalu.
Setelah menunggu dan menunggu, Clarista mendengar bel berbunyi. Tak lama Bu Siska muncul di hadapannya lagi. “Ayo, kita ke kelasmu,” ajak Bu Siska dengan senyum tersungging di bibirnya. “Bu Siska ramah ya...” pikir Clarista dalam hati.
Sesampainya di kelas, Clarista berusaha menahan takut dengan tersenyum. Gurunya meminta Clarista untuk memperkenalkan diri di depan kelas. Clarista berusaha untuk tetap tersenyum selagi melanjutkan perkenalannya.
Clarista diterima baik oleh teman-teman barunya. Mereka juga tersenyum selagi Clarista memperkenalkan dirinya. Setelah selesai, Clarista diminta untuk duduk di kursi kosong yang berada di belakang, di sebelah seorang lelaki berkacamata. Claristapun duduk disana. Lelaki itu tersenyum. Dia memperkenalkan dirinya.
“Halo, namaku Henry. Salam kenal, ya.” “Oh, halo. “ jawab Clarista sedikit terbata-bata. Selama jam pelajaran, Clarista dan Henry menjadi sering mengobrol. Clarista merasa lebih dekat dengan Henry. Hingga saat bel istirahat berbunyi, Henry mengajak Clarista untuk jajan di kantin. “Maaf, namun aku sudah membawa bekal,” tolak Clarista. “Baiklah. Kamu tunggu di sini sementara aku membeli makanan,” ujar Henry.
Sambil mengeluarkan bekal dari tasnya, Clarista memperhatikan sekitarnya. Teman-teman barunya dengan ramah menerima dirinya, namun dia lebih memilih untuk lebih dekat dengan Henry. Dari cara mereka berinteraksi dengan Henry, banyak yang tidak menyukai Henry. Henry dikenal sebagai anak yang tidak terlalu pintar, dia juga tidak pandai bergaul sehingga tidak memiliki teman. Tinggi Henrypun sedikit lebih kecil daripada Clarista, berkacamata, rambut dibelah dua ditengah, dan sebuah tahi lalat di pipinya. Namun Clarista menyukai semua hal-hal itu, sebagai teman.
Henry berlari-lari kecil menuju tempat duduk dia yang berada di sebelah Clarista. “Aduh, tadi kakiku banyak terinjak kakak kelas, sakit rasanya. Eh, aku sempat membelikanmu kentang goreng. Mau? Kalau tidak, ya, aku yang makan,” tawar Henry. “Tidak usah. Bekal ini cukup untukku. Terima kasih sebelumnya,” tolak Clarista. Henrypun tersenyum lalu mulai memakan nasi kuning yang tadi dibelinya di kantin. Clarista telah selesai makan, namun Henry belum. Ketika Clarista memperhatikan sekitar selagi menunggu, seseorang memanggil Clarista.
“Hey, kamu, si anak baru! Kemarilah!” ujar orang itu. Clarista dengan sigap langsung berjalan ke tempat orang itu duduk. “Ada apa?” tanya Clarista. “Duduklah disini.” Clarista menuruti. Ketika Clarista menarik kursi untuk duduk, orang itu langsung memulai pembicaraan. “Kamu sepertinya dekat dengan Henry, ya. Kok kamu mau sih? Dia itu jelek, tidak punya banyak teman,” cetus orang itu. “Kita seharusnya tidak boleh membeda-bedakan orang, bukan?” ungkap Clarista. “Iya, tapi… Baiklah itu terserah kamu sih. Oh iya, aku Sisil, salam kenal ya.” “Salam kenal juga, Sisil.”
Clarista kembali duduk ke tempat duduknya semula. Henry langsung bertanya, “Tadi kamu ditanya apa oleh Sisil? Tentang aku, ya?” “Iya. Dia bilang–“ “Tidak usah dilanjutkan, aku sudah tahu,” ungkap Henry sedih.  “Mereka tidak suka padaku, aku seperti orang yang tidak dibutuhkan mereka. Terkadang aku telah berusaha untuk menjadikan mereka teman, tapi tetap saja, akhirnya mereka menjauh. “ Clarista tersenyum sambil berkata, “Aku suka mempunyai teman sepertimu.“ 
Bel masuk kelas berbunyi. Mereka kembali belajar. Hingga waktunya pulang sekolah, Henry menawarkan untuk mengantarnya sampai gerbang sekolah. “Tidak usah,” tolak Clarista sambil tersenyum kecil. Clarista kemudian berlalu. Rupanya mamanya sudah menjemput menggunakan mobil, Clarista langsung masuk mobil dan bercerita pada mamanya. Hingga dalam perjalanan pulang, Clarista masih bercerita tentang sekolah barunya. Clarista masih bersemangat. Sesampainya Clarista di rumah, dilihatnya Henry berdiri di ujung jalan. Ketika turun, Clarista langsung berlari ke tempat berdirinya Henry. “Kok kamu ada disini?” tanya Clarista. Henry menjawab, “Rumahku ada di dekat sini.” “Oh, rumahku disana, yang berpagar putih. Kalau mau main, datang saja,” kata Clarista.
Keesokan harinya, Clarista diajak oleh mamanya Henry untuk pergi sekolah bersama. Hingga selanjutnya, mereka sudah menjadi sahabat. Di sekolah, di mana ada Clarista selalu ada Henry. Mereka sangat akrab, orangtua mereka pun juga sudah mengenal satu sama lain.
Dan pada suatu saat, Clarista merasa Henry sedikit menjauh. Dia seperti ingin sendiri. Clarista pun diam saja. Dia melampiaskan dengan bermain bersama yang lain.
Keesokan harinya, Henry tidak masuk sekolah. Clarista berniat untuk bertemu dengan Henry di rumahnya setelah pulang sekolah. Dan ketika tiba saat pulang sekolah, Clarista langsung meminta mamanya untuk mengantarkannya ke rumah Henry. Setibanya di rumah Henry, dilihatnya rumah itu sepi, tidak ada orang. Clarista sedikit kecewa. “Henry apa kabarnya ya…” tanya Clarista pada diri sendiri dalam hati. Clarista melangkah lesu ke rumahnya. Sesampainya dirumah, Clarista langsung merebahkan badannya ke sofa di ruang keluarga. Clarista lalu mengehmbuskan nafas panjang.
“Ada apa denganmu, sayang?” tanya mamanya yang bingung melihat tingkah laku putrinya yang biasa ceria tersebut. “Tidak apa-apa kok ma. Aku hanya lelah,” jawab Clarista. Ibunya lalu tersenyum lalu mengingat sesuatu. “Oh iya, tadi Henry tidak masuk ya? Siang tadi mama melihat dia ada di depan rumahnya, dan menitipkan surat yang seharusnya diberikan kepadamu. Sebentar ya, mama ambilkan. “
Clarista langsung tegang. Mengapa tadi Henry tidak masuk? Mengapa Henry harus memberikan sebuah surat? Apa isi surat itu? Banyak pertanyaan yang muncul di benak Clarista. Mamanya kembali sambil memberikan sebuah amplop kecil. “Ini suratnya, katanya kamu boleh membuka seminggu setelah hari ini,” mamanya memberitahu. “Baiklah, ma.”
Hari-hari setelahnya, Henry sudah tidak masuk sekolah lagi. Clarista makin penasaran. Seminggu dilaluinya dengan berat. Dia ingin bertemu dan bermain lagi dengan Henry.  Hingga seminggu terlewati, dengan hati-hati Clarista membuka surat itu. Clarista mulai membacanya.

“Clarista, kamu apa kabar? Semoga baik-baik saja ya. Aku kangen kamu, Clarista. Tahu tidak, aku pindah ke luar kota sekarang. Bagaimana keadaan di Jakarta? Pasti tidak ada yang memperdulikan aku yang sudah berhari-hari tidak masuk. Kalau Clarista, bagaimana? Hehe. Clarista, sebenarnya aku juga tidak mau pergi. Tapi mau bagaimana, sakit jantung bawaan dari orangtuaku memang sudah harus ditangani. Aku belum pernah menceritakannya padamu ya? Iya, karena aku tidak mau melihat kamu harus sedih karena aku menderita sakit yang seperti ini. Kemarin, sebelum kamu membuka surat ini, aku pasti mengalami koma. Aku berdoa, supaya aku bisa sembuh dan bisa bertemu dengan Clarista lagi. Tapi apa boleh buat, pagi ini aku pasti sudah dipanggil Tuhan. Tuhan sayang padaku, Dia tidak mau melihatku makin sakit karena penyakit yang kuderita ini. Clarista jangan sedih ya. Aku disini tidak mau melihatmu menangis. Banyak orang yang lebih baik daripada aku. Kamu bisa mencari sahabat lagi. Dalam lubuk hatiku, sebenarnya aku ingin mengungkapkan sesuatu untukmu, namun aku takut jika Clarista menolaknya dan membenci aku. Sebenarnya, aku sayang padamu, Clarista.
Baiklah, sampai disini dulu ya. Jadilah gadis baik, seperti waktu pertama kali kita bertemu. 
                                                                                     Tertanda,


                                                                         Henry.”


Clarista tak kuat menahan sedihnya, dia menangis. Namun apa boleh dikata Henry sudah tiada. Sudah saatnya Clarista harus mencari sahabat baik, seperti Laura, dan terutama Henry. Clarista berjanji, untuk kedepannya, Clarista harus menyayangi orang-orang yang ada disekitarnya, seperti teman, sahabat, guru, saudara dan orangtua. Karena apabila mereka sudah tiada, kita tidak bisa membalas budi baik mereka.

Label:

________________________________________________________________________________________
Senin, 12 Maret 2012 | 23.34 | 0 Atasinchi

Laura berlari. Dia mau membeli nasi goreng di ujung jalan itu untuk pacarnya, Rio, yang sedang sakit. Laura memang tidak terlalu ahli dalam memasak, sehingga dia hanya bisa membeli; untuk kali ini.

Nasi goreng tersebut jadi disaat yang tidak sesuai. Mungkin sang koki menerima pesanan yang terlalu banyak, sehingga Laura perlu menunggu sedikit lama. Setelahnya, Laura berusaha lari, mencari angkot, agar durasinya tidak terlalu lama. “Kesian, Rio. Dia pasti kelaparan menunggu aku,” pikirnya.

Sesampai di rumah Rio, pintu dibukakan oleh ibunda Rio. Laura meminta untuk ke kamar Rio, dan ibunya mempersilahkan.

Ketika masuk kekamar Rio, dilihatnya Rio sedang makan. “Rio, aku udah beliin kamu—“  “Kamu lama banget sih! Kamu tega ya, ngeliat aku kelaparan?”
Sambil menahan tangis, Laura berkata kecil, “Rio kan sakit, mesti makan banyak..”
“Lagian kamunya dateng kelamaan sih! Kamu lihat dong mama aku, dia selalu ada buat aku. Dia yang bikinin aku nasi kuning ini. Lah kamu, kamu itu cuma bisa—“  “udah, cukup,”kata Laura.

“aku tau, aku ga sehebat ibumu. Seorang ibu selalu akan berada di samping anaknya, dan aku berusaha untuk selalu ada disamping kamu! Aku udah lari, menunggu hingga lama sekali, dan apa yang aku dapatkan? Ceramah dari orang yang membuatku capek begini? Hmh, baiklah kalo kamu ga mau makan nasi goreng ini, buat makan siang kamu aja. Aku pulang ya, biar kamu ga marah-marah lagi sama aku. Cepet sembuh ya, Rio. Aku sayang kamu.”

Laura pun keluar dari kamar sambil menunduk. Ia tidak mau terlihat lemah, dengan mengeluarkan setetes air dari matanya.
Rio hanya diam, dan melanjutkan makannya.

***

Beberapa hari kemudian, Rio tak kunjung sembuh. Laura pun berniat untuk menjenguknya langsung.

Sorenya, ketika Laura masuk ke kamar Rio, dilihatnya Rio memegang lemas handphonenya sambil bertelepon dengan seseorang. Rio pun berusaha untuk membuang muka. Laura menarik kursi dari ujung kamar ke sebelah tempat tidur, tempat Rio berbaring. Laura menunggu sedikit  lama, hingga Rio mematikan handphonenya.

“Tadi kamu telponan sama siapa?”  “sama seseorang.”  “aku tau, sama seseorang. Dia siapa kamu?”

“sama mantanku. Puas kamu sekarang?”

“tidak,” Laura terdiam, kemudian dia melanjutkan, “kamu senang sekarang, membeda-bedakanku dengan seseorang di masa lalumu?”
“em, iya. Dia lebih perhatian terhadapku, dari pada kamu! Walaupun dia ga bisa dateng buat jenguk aku, tapi dia udah telpon aku. Tadi dia nyuruh aku makan, jangan lupa minum obat, banyak istirahat, lain-lain. Apa yang aku dapatkan dari kamu?”





“cukup! Aku memang bukan mantanmu. Aku juga ga sehebat dan seperhatian dia, mantanmu itu. Aku memang ga bisa apa-apa, aku tau aku lemah. Sekarang kamu puas, kan? Memojokkanku, membeda-bedakanku dengan memojokkanku seperti ini? Kamu kalau masih sayang sama mantanmu, balik saja dengan dirinya. Aku rela, kalau kamu memang masih sayang. Biar, aku mau kamu senang, walau itu tanpa ada aku. Aku sayang kamu, dan aku ga mau liat kamu tersiksa karena aku. Jadi, lebih baik kita sudahi saja. Makasih ya, atas semua.”

Rio diam. Baru pertama kali ini dia melihat Laura seberani ini terhadapnya.
Laura tak kuat menahan air mata, dia keluar sambil berlari-lari kecil keluar kamar. Ibunda Rio melihat sekilas Laura yang mengusap matanya, bertanya. “kamu kenapa, Laura?”  “gapapa, tante,” kata Laura.

***

Semenjak itu, tidak ada kabar lagi dari mantan Rio, terakhir mendengar gosip, mantan Rio sudah punya gandengan baru. Rio kesepian, dia teringat akan Laura. Tidak ada lagi yang bawain obat sambil tergopoh-gopoh, tidak ada juga yang menjadi bahan celotehannya Rio.

________
Jangan sia-siain apa yang kamu punya sekarang, kesempatan ga akan datang dua kali (:

Label:

________________________________________________________________________________________
Minggu, 11 Maret 2012 | 04.50 | 0 Atasinchi
Aku sering dibentak. Aku tahu aku salah. Semua kesalahanku yang tertutur dari mulutmu, semua kudengar. Kamu memintaku untuk berjanji; iya, aku janji. Aku disini seperti hanya bisa mengikuti apa maumu. Aku hanya ingin melakukan sendiri, agar aku terlihat mandiri didepan kamu. Aku menghargai kamu. Secara fisik atau yang non-fisik. Caramu menasihatikupun aku hargai. Aku sayang padamu, aku rela mendengar semua. Apa yang ada dibenakmu dan keluar dari mulutmu pasti ada gunanya untukku, walau aku hanya bisa diam. 

Pernahkah kau terpikir bahwa aku punya hak juga untuk berbicara? Aku ingin sekali kamu mendengar. Aku tak mau membuatmu menunggu hingga ceramahku selesai; seperti yang kau lakukan padaku, tapi setidaknya kamu bisa tahu apa isi hatiku. 

Bisakah kamu mengerti, aku hanya manusia ceroboh. Yang selalu berbuat salah dan membuatmu marah? Kadangkala akupun tak mengerti, apa yang membuatmu begitu "perhatian" padaku, sehingga membuat durasi pidatomu menjadi lama? Aku hanya bisa bertanya pada diriku sendiri, mencoba mengetahui seberapa besar salahku dimatamu.

Memang, aku bukan manusia sempurna, sesempurna yang kau bayangkan, atau sesempurna mantanmu. Aku masa depanmu, bukan robot atau pembantu-pembantu yang melayanimu dirumahmu. Aku hanya ingin diperlakukan adil, disayang dan dicintai. Apakah kamu pernah menyadari bahwa selama ini dan hingga sekarang, aku menahan amarahku?

Sabar. Orang lain hanya bisa berkata sabar. Tapi aku juga mencoba sabar. Susah, dan sabar memang ada batasnya. Jadi tolonglah, aku memang tak bisa setegar yang aku harapkan. Aku sayang kamu, tolong dengarkan aku.

Aku mendengar. Aku mengerti. 

LY.:)

Label:

♠


_______________________________________
◕ Disclaimer ◕


Holla ! You've dropped in my space. Be nice here and copycats not allowed. Thank you :)

_______________________________________
◕ Shout Here ◕


_______________________________________
◕ Big Claps ◕

no edit for this :)
Basecode : Ana Min- Ji
Template : Sya Syahirah
Header : OneWifey
Tutorial : OneWifey
BestView : Google